Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan di tahun 2018 tidak ada lagi BUMN yang rugi
Menteri BUMN Rini Soemarno (Foto: Selfie Miftahul/detikFinance)

Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan di tahun 2018 tidak ada lagi BUMN yang rugi. Menteri BUMN Rini Soemarno menjelaskan di pada semester I-2017, ada 24 BUMN yang mengalami kerugian.

Meski demikian, angka tersebut lebih sedikit dari periode yang sama tahun lalu, sebanyak 27 BUMN. Hingga akhir tahun 2017, angka perusahaan negara yang rugi terus menyusut menjadi 12 perusahaan. Dari perkembangan tersebut, Rini mengatakan di tahun 2018 tidak akan ada lagi perusahaan BUMN yang rugi.

"Dulu ada 24 perusahaan yang rugi, kemudian menjadi 12. Tahun ini saya harapkan (perusahaan yang rugi) hilang semua, terutama untuk Garuda dan Citilink jadi semuanya harus naik Garuda dan Citilink," kata dia saat menghadiri acara Funbike BUMN di kawasan Kota Tua Jakarta, Minggu (25/3/2018)

Baca Juga: Jurus Rini Soemarno Agar Tak Ada Lagi BUMN Rugi

Rini berharap di tahun 2018 tidak akan ada perusahaan yang kembali rugi. Sebagai informasi, BUMN yang mengalami kerugian belum tentu masuk ke dalam BUMN 'sakit' yang susah untuk direstrukturisasi.

Sebanyak 3 BUMN di tahun 2017 berhasil bangkit dari kerugian, antara lain PT Djakarta Lloyd (Persero), PT Nindya Karya (Persero), dan PT Varuna Tirta Prakasya (Persero).

Djakarta Lloyd berhasil bangkit karena adanya sinergi dengan PLN dalam jasa angkutan kapal. Nindya Karya juga perlahan mendapatkan kontrak baru, sedangkan Varuna Tirta Prakasya melakukan sinergi dengan BUMN lain.

Dari 24 BUMN yang mengalami kerugian ada 9 di antaranya yang termasuk 'sakit'. Beberapa di antaranya adalah PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT Kertas Leces (Persero), PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (Persero), dan PT Iglas (Persero). (Detik)

Baca juga: Dibonceng Bos BTN, Rini Soemarno Bersepeda Di Kota Tua

Post A Comment: