Menteri BUMN Rini Soemarno memberi sambutan dalam launching Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) di Gedung BI, Jakarta, Senin (4/12). GPN bisa menekan biaya investasi dan infrastruktur bagi perbankan karena dapat dipakai bersama. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Samosir - Menteri BUMN Rini Soemarno mencoba memutar otak untuk mengatasi BUMN yang masih merugi hingga akhir 2017. Untuk mencari jalan keluar itu, dirinya mengumpulkan seluruh CEO BUMN di Parapat, Toba Samosir, Sumatera Utara, Kamis (21/12/2017).

Sampai akhir tahun ini setidaknya beberapa BUMN yang masih merugi antara lain PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Kertas Leces (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero).

"Ada beberapa hal yang kita perdalam hari ini, salah satunya mengenai bagaimana menghadapi perusahaan yang merugi. Ada yang merugi sudah dari puluhan tahun, ada yang merugi karena memang operasionalnya sangat jelek," kata Rini di Samosir.

Rini Soemarno mengatakan, kerugian total BUMN mencapai Rp 13 triliun pada 2013. Kemudian pada 2016 kerugian sekitar Rp 5 triliun dan diperkirakan kerugian sekitar Rp 4 triliun pada 2017.

Dari total kerugian tahun ini, Rini Soemarno menuturkan, BUMN yang paling besar kerugiannya adalah Garuda Indonesia dan Krakatau Steel. Kerugian masing-masing BUMN di atas Rp 1 triliun.

Dua BUMN itu menjadi paling banyak merugi karena Garuda Indonesia tengah menghadapi persoalan persaingan bisnis. Untuk itu, Rini meminta efisiensi harus terus dilakukan Garuda Indonesia. Sementara untuk Krakatau Steel, kerugian lebih banyak disebabkan adanya dumping baja dari China.

"Tahun ini mungkin masih ada 12-13 BUMN (merugi). Dan nanti 2018 kita targetkan tidak ada lagi BUMN yang rugi," tutur dia. (Liputan6.com)

Post A Comment: